Tuesday, 19 July 2016

Menangkap Bintang Jatuh (Part 3)

12


Dear Miss Ilma Zaim,

Student number: 1658672


This email is to notify you of an update regarding your application (this may include a new message or decision) to Management Research MPhil/PhD (Full-time) at King’s College London.

There may be a deadline associated with the new message or decision so we recommend you check your online King's Apply pages as soon as possible.

The King’s online admissions portal (King's Apply) can be found at https://apply.kcl.ac.uk/


King’s College London

--------------------------------------------------------


SUPER DEG-DEGAN PARAHHH!! 


Saya baru saja bangun tidur waktu itu. Gemeteran banget waktu lihat ada email masuk dengan subject "Update from King's College London". Belum juga online admission portal itu dibuka, dengan pede nya saya sudah membayangkan foto saya yang sedang berpose di depan Big Ben, menyambut diri saya sendiri:




Heeeey... Ilmaaaaaa... London is calling!!!

TERLALU EXCITED.

Saya menerima e-mail ini tepat 2 hari setelah saya melakukan wawancara via Skype dengan Profesor dari King's College London (KCL), universitas yang sangat saya impikan dan selalu saya sebut dalam setiap doa saya. Dari sekian banyak universitas yang ada di UK, hanya ada sedikit sekali professor yang memiliki research interest yang sesuai dengan proposal penelitian saya dan KCL adalah salah satunya. Selain terletak di London-- kota favorit saya, KCL juga termasuk ke dalam peringkat TOP 20 dunia dan profesor yang saya incar adalah salah satu yang terbaik di bidangnya. Untuk bisa mendapat undangan interview, saya harus menunggu lebih dari 4 bulan sejak saya pertama kali mengirimkan e-mail perkenalan kepada profesor. Saya kirim e-mail ke profesor di bulan Desember, baru dapet undangan interview bulan Maret. Tiga bulan penuh harap-harap cemas.

Untuk pertama kalinya saya diwawancara profesor via Skype. Ngeriiii. Sejujurnya saya nervous berat waktu mau diinterview. Wawancara jam 5 sore, jam 9 pagi saya udah heboh ngecek koneksi wifi, setting-an Skype, baca-baca lagi research proposal sampe bikin contekan jaga-jaga kalau si profesor nanya sesuatu yang saya lupa atau kurang kuasai.


TKP pembantaian via Skype dengan barang bukti berupa contekan di dinding
Tujuh belas menit wawancara ini ditutup dengan "Excellent. Your research is very unique. You have a different approach yet I found it very interesting.

Saya cukup optimis dengan hasilnya. Interview berjalan dengan lancar, profesor suka dengan rencana penelitian saya dan saya sudah ada beasiswa LPDP di tangan.

Sebelum akhirnya saya klik link online portal, saya perlu menunggu beberapa menit dulu untuk mempersiapkan diri menerima apapun hasilnya. Ternyata waktu saya buka......



 
Loh... loh... kok gini. Perasaan kemarin waktu wawancara lancar-lancar aja. Profesornya juga "tampak" tertarik dengan penelitian saya. Saya nggak terima begitu aja. Saya kontak lagi admissionnya untuk minta feedback, kira-kira apa ya yang bikin saya gak keterima? Jawabannya gini:




LEMES.

Awalnya sih sok tegar. Lama-lama kok....

Cesss.. bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipiku, menahan sakit di dadaku yang bagai tersayat saat mendengar rintihan Nia Daniaty kala menyanyikan lagu gelas-gelas kaca #KATANYASIHLIRIKNYASETAJAMSILET #ANALOGINYAMAHGITU
#GAKTAUJUGASIHLAGUGELASGELASKACAKAYAKGIMANA.

Tapi ini serius. Kalau mau tau sakitnya kayak apa, coba bayangkan kalo kamu punya seseorang yang kamu sukaaaa banget.. Orang itu selalu kamu sebut namanya dalam setiap doa... Setelah berbulan-bulan menunggu respon darinya, suatu hari orang itu membalas senyuman kamu dan bilang "Excellent. You are very unique. You are different from others yet I found you very interesting." tapi dua hari kemudian kamu disamperin orangtuanya dan bilang "Anak saya banyak yang ngantri.. Walaupun kamu masuk kriteria dan anak saya tertarik sama kamu, sayang sekali kami sudah memutuskan untuk memilih calon lain untuk anak saya karena dia lebih baik daripada kamu." #HAKJLEB


HAHAHAHA. Maap yah drama sinetron FTV banget, tapi yah begitulah kira-kira perasaan saya waktu terima berita itu :)))))))

------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini saya dedikasikan terutama untuk teman-teman yang berniat untuk melanjutkan S3 dan bahkan untuk yang saat ini sedang berjuang mencari beasiswa atau mendaftar universitas.

Banyak yang bertanya, sebenarnya harus yang mana duluan sih, cari beasiswanya dulu, atau cari kampusnya dulu?


Ada yang bilang, "Mending cari beasiswanya dulu. Kalo udah dapet beasiswa, lo bakal lebih gampang diterima di kampusnya. Universitas itu, terutama buat yang S3 ya, nyari student yang udah secure sponsorshipnya. Percuma riset lo keren kalo lo gak ada duitnya. Pada prinsipnya kampus tuh cari duit juga, apalagi kalo kita international student."


Sementara itu, ada yang juga yang bilang, "Keterima di kampusnya dulu, baru apply beasiswa. Kalo mau apply beasiswa kan diutamakan yang udah punya LOA. Apalagi nyari sekolah buat S3 tuh gampang-gampang susah, gak kayak kalo kita apply S1 atau S2. Nyari profesor yang cocok sama riset kita tuh udah kayak nyari jodoh."


Jawaban saya: It can be either way around.

Menurut saya, semua tergantung pada kondisi pribadi masing-masing. Terlepas dari hasil akhirnya yang semuanya di tangan Tuhan, kita harus tahu kapasitas dan kesiapan kita sendiri: lebih siap yang mana dulu? Jangan kelamaan mikir, hajar aja apa yang lebih dekat di depan mata.

Saya pribadi termasuk yang mengadu nasib lewat beasiswanya dulu. Saat itu, saya belum diterima di universitas manapun mengingat saya cuma punya sertifikat TOEFL ITP, sementara untuk daftar universitas minimal harus TOEFL iBT/ IELTS atau bahkan GMAT/GRE. Semua persyaratan beasiswa LPDP sudah saya punya. Ya udah, daftar beasiswanya aja dulu.

Saya butuh waktu untuk mempersiapkan diri untuk bisa dapet skor IELTS yang tinggi supaya bisa diterima di universitas yang saya tuju. Untuk bisa diterima di universitas idaman dengan peringkat top dunia, idealnya kita harus mencapai skor overall minimal 7 dengan skor each band minimal 7.

Setelah mengalami patah hati akut akibat ditolak KCL, saya mulai panik dan mulai daftar ke universitas-universitas lain dengan membabi buta. Saya panik, mengingat tenggat waktu yang diberikan untuk LPDP untuk cari sekolah tinggal beberapa bulan lagi, otherwise beasiswa ini akan hangus. Sementara itu, untuk daftar 1 sekolah aja nunggu kabarnya bisa sampe 3 bulanan.. waduh gaswat ini.

Untungnya, penelitian saya menggabungkan 3 keilmuan. Desain komunikasi visual, tourism dan marketing, sehingga saya bisa apply ke 3 fakultas secara bersamaan.

Terhitung ada 12 universitas yang saya daftar sejak bulan Maret 2016 hingga Mei 2016. Semuanya di UK-- karena saya sudah mengurungkan niat ke Amerika-- dan karena satu dan lain hal tidak tertarik mencoba ke negara lain seperti di Eropa daratan atau Australia. Selain KCL, saya juga daftar ke Goldsmiths University of London, Queen Mary University of London, Middlesex University London, University of Nottingham, Newcastle University, University of Leeds, Birmingham City University, University of Glasgow, Swansea University, University of Sheffield dan University of Liverpool.

Saya mendaftar ke semua universitas tersebut dengan dua cara: 1). Apply langsung ke admission portal; dan 2). Menghubungi profesor secara personal, khusus untuk universitas-universitas yang saya prioritaskan, yaitu Goldsmiths University of London, Queen Mary University of London dan Newcastle University.

Hasilnya?

Saya harus bilang bahwa untuk lanjut S3, cari profesor itu kayak cari jodoh adalah benar adanya.

Hampir semua kolega saya yang sudah merasakan pahit manisnya kehidupan saat menjalani studi S3, berpesan pada saya:

"S3 itu ibaratnya, hidup dan mati kamu ditangan profesor. Studi S3 itu berat lho. Cari topik penelitian yang kamu suka. Cari juga profesor (supervisor) yang punya research interest yang sama dengan area penelitian yang kamu suka. Selain itu, banyak-banyak berdoa semoga supervisor kamu itu orangnya gak neko-neko. Banyak kasus mahasiswa S3 yang studinya gagal ditengah jalan karena mengalami 'bad relationship' dengan supervisornya."

Satu bulan setelah ditolak KCL, saya menerima email balasan dari Goldsmiths University of London. Beliau bilang:


Waduh, diminta reposition ke antropologi/ sociologi. Kayak gimana tuh?? Setelah saya berkonsultasi dengan para rekan dosen senior, saya disarankan untuk mencoba mengikuti permintaan si profesor dengan mengganti area penelitian saya ke arah antropologi/ sosiologi. Sejujurnya agak berat bagi saya untuk memutar arah kesana- karena setelah saya pelajari lebih jauh lagi, saya kurang suka dengan bidangnya- tapi apa salahnya saya coba.

Gak berapa lama, saya mendapat email dari admission:






MANYUN.

Selain dari Goldsmiths, saya juga menerima berbagai email bernada sama dari Birmingham City University.

MEMBLE.

Penolakan bertubi-tubi ini cukup bikin saya putus asa. Ini kenapa ya kok semuanya nolak saya. Apa karena riset saya yang tidak menarik? Apa karena topik riset saya gak feasible? KAN SAYA UDAH PUNYA BEASISWA! kok ditolak mulu sih. Katanya kalo udah dapet beasiswa bakal lebih gampang dapet kampusnya???


Ternyata saya gak sendirian. Banyak yang (pernah) bernasib sama di luar sana.
 
"Aaahh, elo.. baru juga ditolak 3. Santai ajaaa. Gua dulu ditolak 7 kampus."

"Ditolak universitas itu bukan berarti kamu gak bagus. Tapi karena gak ada profesor aja yang bisa ngebimbing kamu. Bisa jadi karena area risetnya terlalu jauh sama risetnya dia, atau mungkin saat ini dia lagi nggak nerima mahasiswa S3 aja. Saya dulu applynya Amerika, keterimanya di Jepang..
"

"Tenang, gue pernah baca di gradcafe.com, ada yang apply sampe nyaris 40 universitas, eh semuanya gagal. Iya. Empatpuluh-empatpuluhnya, nolak semua. Gila banget kan."


Penolakan demi penolakan pun saya terima. Queen Mary bilang, saat ini profesornya gak ada yang bisa nerima mahasiswa S3. Newcastle Uni pun demikian. Sisanya, gak ada kabar hingga hari ini. Makin sering ditolak, makin sering terlatih patah hati. Seperti lagunya The Rain #kemudiannyanyi


------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari 12 aplikasi yang saya kirim, hanya ada 3 universitas yang memberikan undangan interview via Skype. KCL (yang berakhir tragis), Middlesex University London dan University of Nottingham. Dua universitas terakhir mengontak saya setelah saya apply langsung ke admission tanpa korespondensi via email dengan profesor sebelumnya.

Middlesex.

IYA NAMANYA EMANG GITU. Gak usah jadi bayangin pornhub, faketaxi, redtube yang aneh-aneh deh ah! :))))

Kayaknya waktu pertama kali denger nama sekolah ini, waktu jaman saya masih S1 sih. Yang kepikiran sama saya waktu itu "INI SERIUSAN NAMA KAMPUSNYA KOK CABUL AMAT??!!!!" dan sialnya, sejak saat itu nama kampus ini nempel di kepala saya HAHAHA KAMPRET.


Gak disangka taunya sekarang saya malah apply kesana. YA ABIS MAU GIMANA LAGI. Disana ada jurusan dan profesor yang pas banget sama proposal penelitian saya!! dan mungkin inilah yang dinamakan teori 'The Law of Attraction'. You are what you think. HAHAHAHANJIRRR SIYALAN :))
 
Saya diundang interview via Skype setelah 1,5 bulan mengirimkan aplikasi via admission portal. Waktu wawancara pun tiba. Anehnya, kali ini saya gak deg-degan. Nothing to lose aja. Gak keterima juga gapapa, abis namanya malesin. Kalopun keterima, ya udah lah lumayan buat cadangan aja.

Tak disangka, ternyata saya dikeroyok oleh TIGA profesor sekaligus, dan interviewnya dilakukan melalui video conference dari 3 negara yang berbeda: Indonesia (saya), Inggris (2 supervisor utama) dan Yunani (profesor senior)! Wah mampus. Bedanya lagi dengan waktu Skype interview dengan KCL, kali ini wawancaranya berjalan selama 48 menit! Diskusi yang cukup intens membahas rencana penelitian saya. Terlepas dari diskusi yang cukup berat itu, saya sangat nyaman berdiskusi dengan ketiga profesor ini. Mereka ramah sekali dan sangat apresiatif atas apapun ide atau opini yang saya sampaikan.

Di akhir wawancara, si profesor bilang bahwa proses aplikasi PhD di Middlesex harus melewati 4 tahap yang cukup panjang: interview oleh profesor-- jika hasilnya positif, admission akan memberikan conditional offer-- proposal penelitian direview ulang oleh profesor dan harus melalui tahap revisi sesuai hasil diskusi waktu wawancara-- kalau profesor sudah approved, baru diajukan unconditional offer yang dikeluarkan oleh admission. 

Seminggu kemudian, alhamdulillah, saya mendapat conditional offer dengan catatan harus revisi proposal hingga kualitasnya sesuai standar yang diminta profesor. Saya mendapat feedback yang sangat detil mengenai apa saja yang harus saya perbaiki. Seketika saya terkesan dengan bagaimana universitas ini menyeleksi calon mahasiswanya. Saya pikir kalau sudah interview, ya udah, langsung dapet unconditional LOA. Ternyata gak segampang itu. Selama proses revisi, saya melakukan banyak sekali diskusi 2 arah dengan profesor. Saya juga terkesan dengan calon supervisor saya yang sangat helpful dan friendly. Saya dibimbing dengan sangat baik dan jelas, bahkan saya jadi belajar banyak cara bikin research proposal yang berkualitas. Sebulan kemudian, alhamdulillah unconditional offer berhasil saya dapatkan.

Lain ceritanya dengan University of Nottingham.

Saya mendapat undangan Skype interview hampir sebulan setelah saya daftar melalui online admission portal. Saya diinterview dengan cukup singkat oleh seorang associate profesor perempuan. Cantik dan ramah sekali. Wawancara berjalan dengan sangat santai dan berjalan tidak sampai 20 menit. Seminggu kemudian, saya langsung mendapat unconditional LOA dan tawaran akomodasi kampus. Rasanya gampang dan lancar sekali prosesnya.



--------------------------------------------------------------------------------------
 
Mulai galau. Dari kedua universitas ini, pilih mana ya. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing sih. Sekarang sudah masuk bulan Juni, saya harus segera mengambil keputusan karena keduanya sama-sama intake bulan Oktober 2016. Sementara itu, saya harus meminta persetujuan perpindahan universitas kepada pihak LPDP, mengingat dulu waktu apply LPDP saya menulis University of Pennsylvania sebagai kampus tujuan saya (yang akhirnya saya batalkan karena banyak hal, terutama karena area riset profesornya kurang nyambung dengan proposal saya). Susahnya lagi, Middlesex University tidak masuk ke dalam list universitas LPDP, karena usianya masih relatif baru. Walaupun demikian, universitas ini peringkat 100 besar universitas berumur kurang dari 50 tahun, dan bidang tourism marketingnya menempati peringkat ke-30.

Secara ranking, Nottingham menang telak dari Middlesex. Nottingham peringkat 77 dunia. Sayangnya, saya kurang suka kotanya. Dari yang saya lihat lewat video di YouTube dan juga testimoni dari teman-teman yang pernah kesana, Nottingham ini kotanya sepi. Saya agak kurang suka dengan suasanya yang sepi. Apalagi kalau S3 butuh banyak hiburan banget. Selain itu, setelah saya pelajari lagi profil profesornya, ternyata riset areanya agak sedikit jauh dengan penelitian saya, sehingga saya perlu melakukan penyesuaian yang cukup banyak nantinya.

Sementara itu, selain namanya bikin males, Middlesex juga secara peringkat masih belum sekeren Nottingham. Tapi lokasinya di (pinggiran) kota London, yang mana sejak dahulu kala jadi kota idaman untuk saya tinggali. Selain itu, profesor yang akan menjadi supervisor saya benar-benar satu interest dengan saya. Setiap kali berdiskusi dengannya, saya selalu merasa enjoy dan merasa dibimbing dengan sangat baik. Profesor ini juga adalah salah satu ahli maritime tourism terbaik di dunia, dimana keahlian ini sangat jarang ditemukan di universitas lain di manapun.

Sejauh ini, saya mendapat banyak masukan dari berbagai kalangan. Ada yang nyaranin saya ambil Nottingham aja. Ada juga yang mendukung saya masuk Middlesex. Gak sedikit pula yang ketawa ngakak sambil ngebully saya gara-gara denger nama yang bikin geli sendiri ini. Gimana dong. Kan jadi kurang keren gitu yah kalo nyebutin nama universitas, yang ada jadi bahan bully :)))))))


Tapi ya sudahlah. Mungkin ini yang terbaik dari yang ada. Ya udah, saya berdoa ajahh..

"Ya Allah, izinkan aku untuk sekolah di universitas yang terbaik menurut pilihanMu, dimana aku bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang.. riset yang aku sukai.. lingkungan yang menyenangkan.. supervisor yang membimbing dengan baik.. dan semuanya membawaku ke kehidupan yang berkah dan bahagia dunia akhirat.. untuk hari ini, hari esok dan masa yang akan datang. Aamiin."

Waktu berselang, dan ternyata pilihan yang terbaik itu adalah...........

TEBAK!!!!!!! :)

Perjuangan tidak berhenti sampai disitu saja. Saya harus mengajukan permohonan perpindahan universitas, dari universitas awal saat mendaftar beasiswa LPDP yaitu University of Pennsylvania.

Saya harus melampirkan beberapa dokumen pendukung antara lain  1) Surat pengajuan perpindahan universitas yang ditujukan kepada Direktur Utama LPDP; 2) Proposal penelitian Doktoral saya; 3) Surat rekomendasi dari Atase Pendidikan KBRI Inggris; 4) Surat rekomendasi Profesor Dalam Negeri; 5) Surat rekomendasi Profesor Luar Negeri; 6) Surat rekomendasi dari alumni yang sudah berhasil mengembangkan karirnya di Indonesia; dan 7) Unconditional Letter of Acceptance (LoA) dari universitas tujuan.

Terhitung 3 minggu lamanya saya harus menyiapkan semua dokumen tersebut di atas. Yang paling menantang adalah saat harus mencari profesor Indonesia yang ahli di bidang yang akan saya tekuni, yang mana ternyata sampai saat ini belum ada! Jadilah saya harus bergerilya mencari sampai akhirnya berhasil mendapat rekomendasi dari kolega saya. Setelah 3 minggu menjalani proses penyiapan semua dokumen ini, saya harus menunggu 3 minggu lagi untuk proses penyetujuan permohonan ini karena terpotong liburan lebaran. 

Ujian kesabaran deh ini judulnya.

Akhir cerita, saya baru bisa tenang setelah pengajuan perubahan universitas ini disetujui pihak LPDP, yang Alhamdulillah baru saja saya dapatkan seminggu setelah lebaran kemarin #bernafaslega #sujudsyukur #makanenak #tidurnyenyak #hatigembira #wajahsumringah :)

NEXT STEP: Apply Student Visa TIER 4 dan persiapan keberangkatan. WISH ME LUCK!!!!! 

 

12 comments:

  1. London suburb university right? Alhamdulillah So proud of you. May Allah SWT bless your effort with great Fortune and Joy in success. Amin

    ReplyDelete
  2. Keren mbak Ilma..Ruang skype nya menginspirasi..Semangat ya mbak

    ReplyDelete
  3. Ilmaa...thank you for this post. Sangat menyemangati gue yang juga lagi jatuh bangun nyari beasiswa dan sekolah dan profesor ini... Sukses yaa, dan semoga lancar apply visa-nya :)

    -Widy -

    ReplyDelete
    Replies
    1. It's my pleasure, Buwiiid! Great luck and keep your spirit high yaaaa!!!!! Semoga dilancarkan dan segera mendapat kabar bahagia dari beasiswa dan sekolah idaman, aaamiiin :)

      Delete
  4. Hai, mba Ilma. It is such an inspiring story. I am waiting your another stories :) Good luck for your next journey, and keep inspiring people !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello Mbak Kartini, whoaa thank you so much for stopping by and reading my stories, I'm glad you enjoyed it :) Thank you and all the best wishes for you too :)

      Delete
  5. Selamat berjuang di London, Ilma..hard work pays off. Smg sukses

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merlyyynn.. miss you... makaasih sayaang :)

      Delete
  6. thanks a l ot, sangat memotivasi.
    semoga saya bisa ketularan dapat kelancaran dan prof yg enak
    amiiin
    ibrahim

    ReplyDelete